Sabtu, 13 Maret 2010

TINJAUAN ATAS PENANGANAN BAYI BARU LAHIR DENGAN ASFIKSIA NEONATORUM

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Perinatologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan fetus dari 28 minggu dalam kandungan hingga bayi berusia 7 hari post partum. Dewasa ini perinatologi berkembang menjadi suatu cabang ilmu kesehatan anak yang tersendiri. Perhatian terhadap ilmu tersebut semakin besar karena hal ini terkait dengan peningkatan angka kematian bayi baru lahir (Abdoerrachmanet al., 2005). Data dari Save The Children 2001 menunjukkan bahwalebih dari 7 juta bayi meninggal setiap tahunnya. Dan hampir dua pertiga bayi yang meninggal, terjadi pada bulan pertama kehidupan. Selain itu, kerentanan bayi yang meninggal meningkat dalam waktu 24 jam sesaat setelah dilahirkan (Indarso, 2001).
Pada neonatus didapatkan adanya faktor adaptasi yang memungkinkan untuk penyesuaian diri dari lingkungan intrauterin menuju lingkungan ekstrauterin. Dan proses perubahan adapatasi ini sangat dipengaruhi oleh faktor kehamilan dan faktor partus. Bila kehamilan ataupun saat persalinan terjadi gangguan, hal ini dapat menimbulkan peningkatan insidensi morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir tersebut (Abdoerrachmanet al., 2005).
Proses persalinan dengan sectio caessaria turut mempengaruhi perubahan adaptasi bayi baru lahir. Penelitian menunjukkan bahwa 5-10% bayi yang lahir dengan sectio caessaria mengalami depresi berat pada pusat pernapasan. Sehingga, hal ini mengakibatkan kegagalan neonatus untuk bernapas spontan dan timbul asfiksia neonatorum (Wirjoatmodjo (ed), 2000). Oleh karena itu, tindakan resusitasi yang tepat mutlak dilakukan guna mengurangi mortalitas neonatus akibat persalinan tersebut.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan Utama
Santi, seorang nahasiswi kedokteran, sedang menjalankan rotasi klinik di bagian pediatri dalam stase neonatologi. Baru saja ia menyelesaikan laporan pagi, sudah ada panggilan dari ruang bersalin. Di ruang bersalin, ia mendapati seorang bayi laki-laki dengan berat 3,6 kg, panjang 50 cm. Skor APGAR menit pertama 8, menit kelima 9, dan menit kesepuluh 10. Dengan bimbingan dosennya, Santi melakukan pemeriksaan fisik lengkap pada bayi yang baru lahir tersebut dan semuanya normal. Kemudian dia diminta melihat catatan riwayat kesehatan ibu serta riwayat persalinan. Santi mendapati bahwa bayi tersebut dilahirkan secara spontan pada umur kehamilan 39 minggu. Ketuban pecah 3 jam sebelum bayi lahir, warna ketuban jernih, tidak ada mekoneum. Catatan kesehatan ibu menunjukkan bahwa tanda vital ibu normal, pemeriksaan TORCH negatif, HbsAg negatif, gula darah normal, dan HIV negatif. Selanjutnya bayi dan ibunya dibawa ke ruang perawatan untuk dirawat gabung.
Setelah tugas tersebut selesai, Santi diminta membantu di ruang operasi. Di sana ada seorang ibu 27 tahun dengan umur kehamilan 40 minggu yang sedang menjalani sectio caessria. Sectio caessaria itu dilakukan atas indikasi detak jantung janin melemah. Saat operasi, ibu tersebut mendapatkan anestesi general. Segera setelah bayi lahir, santi mendapati bahwa bayi tersebut tidak menangis, apneu, dan berwarna kebiruan. Dengan dimbimbing oleh dosennya, Santi segera membawa bayi ke meja resusitasi dan bayi segera dikeringkan, distimulsi, diberi ventilasi tekanan positif, pijat jantung, dan injeksi epinefrin. Setelah resusitasi didapatkan APGAR skor 6, kemudian bayi segera dipindahkan ke ruang NICU untuk perawatan lebih lanjut.

Permasalahan Sekunder
1. Bagaimana mekanisme adaptasi bayi dari lingkungan intrauterine menuju ekstrauterine ?
2. Bagaimana indikasi dilakukannya sectio caessaria ?
3. bagaimana interpretasi dari penilaian APGAR bayi baru lahir ?
4. Bagaimana indikasi rawat gabung dengan NICU ?
5. Apa yang membedakan antara kondisi bayi pertama dengan bayi kedua?
6. Apakah terdapat kaitan antara teknik sectio caessaria dan anestesi general dengan timbulnya asfiksi pada bayi kedua ?
7. Bagaimana langkah-langkah pemeriksaan fisik bayi baru lahir ?
8. Bagaimana patofisiologi dan etiologi bayi tidak menangis, apneu dan kebiruan ?
9. Bagaimana cara pemberian resusitasi pada bayi baru lahir ?
10. Bagaimana penatalaksanaa, prognosis dan komplikasi pada bayi pertama dan kedua ?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menangani pasien pediatri secara mandiri dalam tingkat individual, keluarga, dan masyarakat dengan bekerja bersama-sama, menyeluruh dan holistik dengan perilaku yang profesional, bermoral dan beretika.
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi dan menerapkan prinsip-prinsip ilmu dasar yang relevan untuk memahami etiologi, patofisiologi, dan patogenesis kelainan terkait neonatologi
2. Menangani suatu permasalahan klinis secara mandiri dengan kemampuan menetapkan diagnosis klinik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
3. Mampu menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan penanganan pasien baik secara farmakologis dan rehabilitatif.
D. Manfaat Penulisan
Bagi mahasiswa kedokteran, laporan ini diharapkan menambah prior knowledge mengenai gangguan psikiatri terutama kelainan-kelainan yang berhubungan dengannya. Bagi penulis, laporan ini merupakan suatu sarana untuk melatih kemampuan menganalisis kasus.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Fisiologi Neonatus
Fisiologi neonatus adalah ilmu yang mempelajari fungsi dan proses vital neonatus, yaitu suatu organisme yang sedang tumbuh, yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin. Tiga faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi ini yaitu maturasi, adaptasi, dan toleransi. Maturasi terkait dengan persiapan fetus untuk transisi kehidupan intaruterin menuju ekstrauterin. Dan hal ini berkaitan erat dengan maasa gestasi. Sedangkan adaptasi diperlukan oleh neonatus untuk dapat bertahan hidup dalam lingkungan yang baru. Toleransi diperlukan terhadap perubahan fisik metabolik didalam tubuhbneonatus terhadap lingkungan luar. (Abdoerrachman et al., 2005). Adapun proses adaptasi utama neonatus mencakup beberapa sistem, yaitu:
1. Sistem Respirasi
Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru bayi. Sebelum terjadi pernapasan, neonatus dapat mempertahankan hidupnya dalam keaadaan anoksia lebih lama karena ada kelanjutan metabolisme anaerobik. Kondisi ini hanya berlangsung maksimal dalam waktu 10 detik setelah dilahirkan. Selanjutnya, neonatus mulai bernapas dengan paru karena adanya rangsangan untuk gerakan napas yang dipicu oleh (1) tekanan mekanis dari toraks sewaktu melewati jalan lahir, (2) penurunan paO2 dan kenaikan paCO2 yang merangsang kemoreseptor yang terletak di sinus karotikus, (3) rangsangan dingin di daerah muka yang turut memicu gerakan awal pernapasan, dan (4) refleks deflasi Hering Breur. Setelah paru berfungsi, respirasi normal mulai terbentuk dengan tipe diafragmatik dan abdominal (Abdoerrachman et al., 2005).
2. Sistem Sirkulasi
Pada masa fetus darah dari plasenta melalui vena umbilikalis sebagian ke hati, sebagian langsung ke sermabi kiri jantung kemudian ke bilik kiri jantung. Dari bilik kiri, darah dipompa melalui aorta ke seluruh tubuh. Darah dari bilik kanan dipompa sebagian ke paru dan sebagian lagi ke duktus arteriosus menuju aorta. Setelah bayi lahir, paru akan berkembang mengakibatkan tekanan arteriil dalam paru menurun (Latief et al., 2000). Tekanan dalam jantung kanan menurun dan tekanan dalam jantung kiri meningkat. Kondisi ini mengakibatkan foramen ovale dan duktus arteriosus berobliterasi. Dan perubahan ini terjadi pada hari pertama setelah lahir (Abdoerrachman et al., 2005).
3. Sistem Metabolisme
Luas permukaan neonatus relatif lebih besar daripada orang dewasa, sehingga metabolisme basal per-kgbb lebih besar. Pada jam-jam pertama energi didapatkan dari pembakaran karbohidrat. Pada hari kedua energi berasal dari pembakaran lemak. Setelah mendapat susu lebih kurang pada hari keenam, energi 60% didapatkan dari lemak dan 40% dari karbohidrat (Abdoerrachman et al., 2005).
4. Sistem Hematologi
Perubahan kadar hemoglobin dalam darah. Darah pada bayi baru lahir berbeda dengan darah pada orang dewasa. Pada neonatus, kadar Hb F dominan dalam mengikat oksigen. Namun, semakin lama kadar Hb F semakin turun dan digantikan oleh Hb A(Latief et al., 2000).
B. Interpretasi APGAR

C. Pemeriksaan Pada Bayi Baru Lahir

D. Asfiksia Neonatorum

E. Resusitasi Pada Bayi Baru Lahir
Langkah-langkah dalam resusitasi bayi baru lahir meliputi:
1. Persiapan menghadapi persalinan atau kelahiran neonatus
Dalam hal ini, harus dilakukan antisipasi terhadap keadaan persalinan yang membutuhkan resusitasi berdasar anamnesis ibu. Selain itu, harus dipersiapkan pula tenaga medis yang terampil untuk melakukan tindakan resusitasi serta peralatan untuk resusitasi. Peralatan yang diperlukan meliputi pemanas radiant, stetoskop, EKG monitor, balon resusitasi, sumber oksigen, sungkup muka, kateter penghisap, pipa endotrakeal, dan obat-obatan(Wirjoatmodjo (ed), 2000).
2. Langkah awal
a. Membaringkan bayi dibawah pemanas radiant yang telah dihangatkan
b. Mengeringkan kepala dan tubuh bayi kemudian menyelimutinya dengan selimut kering dan hangat.
c. Memosisikan bayi telentang dengan posisi netral.
d. Jika bayi apnea ataupun pernapasannya dangkal, dilakukan pengisapan sekret mulai dari mulut dan hidung. Jika sekret bercampur mekonium, diperlukan pengisapan melalui pipa endotrakheal langsung.
e. Kemudian dilakukan perangsangan taktil dengan menepuk telapak kaki ataupun menggosok punggung dan dibatasi waktunya selama 10-15 detik.
f. Jika pernapasan tetap tersengal-sengal atau apnea, harus segera diberikan pernapasan buatan atau ventilasi tekanan positif dengan oksigen 100%. Selain itu, harus dinilai pula frekuensi jantung selama 6 detik dikalikan 10. Bila frekuensi denyut <100 kali/menit, dilakukan ventilasi positif. Setelah itu, dinilai pula warna kulit bayi (Wirjoatmodjo (ed), 2000).
3. Ventilasi tekanan positif
Diberikan saat terjadi apnea, frekuensi jantung <100 kali/menit, atau sianosis sentral. Teknik ini memerlukan sungkup muka dan balon pengembang. Ventilasi dilakukan efektif 40-60 kali/menit dengan tekanan awal 30-40 cm H2O kemudian diturunkan menjadi 15-20 cmH2O. Ventilasi berhasil bila dada terangkat dan terdengar suara napas saat ausklutasi (Wirjoatmodjo (ed), 2000).
4. Pijat jantung
Pijat jantung harus selalu dikombinasikan dengan ventilasi tekanan positif dan oksigen 100%. Waktu menekan dada, jantung diperas antara sternum dan corpus vertebra sehingga darah bisa dipompa ke aorta dan organ vital. Pijat jantung dihentikan jika frekuensi denyut jantung sudah 80 kali/menit atau lebih (Wirjoatmodjo (ed), 2000).
5. Intubasi endotrakheal
Dilakukan bila da indikasi berupa perlunya ventilasi tekanan positif jangka panjang, ventilasi dengan sungkup muka tidak efektif, perlunya pengisapan dari trakea, dan kecurigaan hernia diafragmatica.
6. Pemberian obat-obat darurat
Berupa pemberian epinephrine (adrenalin) bila diindikasikan bahwa frekuensi denyut jantung < 80 kali/menit meski ventilasi tekanan positif sudah efektif dan pijat jantung selama 30 detik. Selain itu bila frekuensi denyut jantung 0, dapat diberikan obat ini. Pemberian obat ini dapat diulang tiap 3-5 menit.
7. Perwatan pasca resusitasi
Neonatus yang berhasil diresusitasi harus segera dirwata dalam NICU (Neonatal Intensive Care Unit) dan harus selalu dimonitor kondisinya.
F. Rawat Gabung dan NICU

BAB III
PEMBAHASAN

BAB IV
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
Abdoerrachman et al., 2005. Perinatologi. Dalam Buku Kesehatan 3 Ilmu Kesehatan Anak. Cetakan Kesebelas. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pp: 1035-9;
Indarso, Fatimah. 2009. Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir Dari Ibu Bermasalah. Dalam: http://www.pediatrik.com/buletin/06224114304-s45flw.pdf (diakses 17 Februari 2010)
Latief, Abdul et al. 2000. Diagnosis Fisis pada Anak. Jakarta: PT Sagung Seto, pp: 146-58
Wirjoatmodjo, Karjadi (ed). 2000. Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar Untuk Pendidikan S1 Kedokteran. 2000. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, pp: 200-5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

onbux

Neobux

Sign by Danasoft - Get Your Free Sign